Tanggal itu adalah hari pertamaku menjalani monitoring kualitas sensus penduduk 2010...listing dan wawancara bukanlah hal baru bagiku, setidaknya 17 hari pernah kulewati melakukan hal tersebut selama PKL di Sumatera Selatan.
4 Mei 2010 untuk kesekian kalinya aku bangga sebagai mahasiswi PTK ini...
4 Mei 2010 untuk pertama kalinya aku bertemu langsung dengan responden dari daerahku, Banyumas...
4 Mei 2010 yang memberikanku lebih dari sekedar pengalaman...
Selasa pagi sesuai dengan janjiku pada KSK kecamatan Sokaraja, aku mendatangi pertemuan koreksi silang PCL-Kortim di Madrasah Diniyah Kyai Amir. Kesan pertamaku S.T.A.N.D.A.R. tempat terbatas dan sederhana. Saking terbatas dan sederhananya, lokasi pertemuan PCL-Kortim se-Sokaraja dibagi dua. Tempat yang lain adalah di Balai Desa Sokaraja Kulon.
Kesan tersebut kurasakan tidak lebih dari 5 menit. Karena setelah memarkir sepeda motor, bapak KSK sekaligus Korlap mendekatiku dan mengajakku untuk masuk ke ruangan pertemuan. Ruangan tersebut adalah satu dari 4 ruang yang digunakan untuk rapat. Sedikit bocoran, satu ruangan diisi oleh PCL-Kortim dari 2-3 desa. Di sana aku dipersilakan untuk duduk di depan dan menjelaskan keperluanku di SP 2010 ini. Dihadapan sekian bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut aku sempatkan untuk grogi (???) ya, mana ada persiapan kata-kata dan aku disuruh pidato?! Siapa aku (pikirku saat itu) pangkat masih 3 (kurang satu strip) udah berlagak pidato dihadapan Kortim2 yang udah berkali-kali makan asam garam sensus atau survei BPS. Phff...alhamdulillah rintangan pertama lancar. Setelah ber-ba-bi-bu dengan pak KSK, saya diberi kejutan lagi bahwa aku-pun harus mengisi di 3 ruangan yang lain.
"Monggo mbak Tika, sampun dipuntenggo kortim-kortim wonten ruangan lainnya. Oh nggih, mangke sekalian kepanggih kaliyan kortim teng Bale dusun kemawon. Mangke kulo ateraken.”
Eng...ing...eng...
Coba pas waktu itu aku bawa mp4ku, aku rekam dan aku putar pidato perdanaku di setiap ruang.
Kondisi pertama masih dalam kendali...
Dibalik grogi dan faktor-X lainnya, sambutan yang aku dapatkan sungguh membuatku terharu. Semangat dan persaudaraan itu sangat terasa dan menancap di hatiku.
Banyak pertanyaan terlontar dengan logat ngapak, rasa penasaran dan kekurangpahaman yang campur aduk menjadi sebuah adonan keluguan. Mulai dari pertanyaan asalnya mana mbak, bagaimana kalo terjadi kasus ini-itu, sampai pada obrolan cara pendaftaran STIS (Lho???). Bapak-bapak dan ibu-ibu itu sangat menyenangkan.
Saat itu aku berpikir, inikah berda’wah di masyarakat? Ah..pasti lebih menantang pada saatnya nanti,,
Dan perjalananku belum usai.................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar